1000159633.jpg

Ruang rawat lantai 3 nomor 9 siang itu diselimuti pilu dan kalut.

Seisi ruangan lemas tatkala dokter dengan clipboard cokelat di tangannya itu memberikan kabar bahwa seorang pasien berusia 17 tahun atas nama Hannah Giovanni harus dipaksa menerima kenyataan bahwa dirinya hanya memiliki waktu 6 bulan sampai nanti Tuhan mengambil keputusan.

Jangan tanya bagaimana terpuruknya Hannah usai mendengarnya. Selepas dokter menyampaikan kabar duka tersebut, gadis dengan balutan pakaian rumah sakit berwarna biru itu pun terduduk lemas di lantai. Ibunya, Gina, tak kuasa menahan tangis ketika melihat tatapan keputusasaan yang terpancar dari mata putri tercintanya itu.

Pandangan Hannah kosong, Gina benar-benar tak sanggup melihatnya. Ibu mana yang sanggup melihat anaknya terperosok di jurang kehancuran sampai hampir mati. Ibu berusia 40 tahunan itu  pun mencoba untuk menguatkan dirinya agar bisa menyalurkan kekuatan tersebut untuk putrinya. Gina berjalan mendekati Hannah. Dengan lembut dan penuh kasih sayang dia mengusap punggung dan kepala anaknya, kemudian mendekap anaknya yang rapuh itu dalam kehangatan.

“Nggak apa-apa, Han. Mama akan cari cara supaya kamu bisa sembuh. Kita berobat, kita kemo, kalau perlu kita jalani pengobatan di luar negeri. Kamu jangan putus asa, ya. Kita berjuang sama-sama,” ujar Gina sambil terus mengusap punggung Hannah yang semakin kecil itu, seperti tak ada dagingnya lagi. Pasalnya, salah satu efek dari penyakit yang diderita gadis 17 tahun itu adalah kurangnya nafsu makan sehingga badannya tergerus habis.

“Nggak bisa! Buat apa Mama buang-buang uang untuk pengobatan aku? Percuma, penyakitnya ngga akan sembuh, iya ‘kan, Dok?” tukas Hannah dengan suara seraknya. Dia benar-benar tak punya semangat untuk hidup lagi usai vonis dokter barusan.

Dokter yang sejak tadi melihat pemandangan yang mengharukan di hadapannya akhirnya memutuskan untuk mendekat. “Hannah, jangan patah semangat, ya. Dokter akan berusaha yang terbaik untuk kamu,” ucap dokter itu dengan lembut dan menenangkan.

Namun, kekecewaan yang Hannah rasakan kini menyelimutinya dengan erat. Mau diberi ucapan semangat dalam bentuk apa pun sepertinya tak akan bisa untuk menambal benteng kekuatan yang kini sudah hancur lebur dimakan habis oleh penyakit mematikan di dalam tubuh gadis kecil itu.

Dengan badannya yang kian hari kian melemah, dia berdiri dari duduknya. Gina yang terduduk di sebelahnya lantas memantau tiap pergerakan yang akan Hannah ambil. Pandangannya tak dia lepaskan dari daksa Hannah. Setelah badannya berdiri sempurna, Hannah membalikkan badannya ke arah pintu. Pintu bercat cokelat itu sudah terbuka sejak dokter tadi masuk. Kaki jenjangnya yang tak terbalut alas kaki melangkah satu demi satu dengan gontai sampai menuju ke ambang pintu. Gina langsung ikut berjalan hendak menyusul anaknya itu. Akan tetapi, dokter dengan jas putih yang berdiri di sebelahnya menahannya sambil menggelengkan kepala.

Sedetik kemudian, tanpa satu pun manusia yang bisa menebak, Hannah berlari. Gadis bersurai hitam itu berlari mengarungi koridor rumah sakit menembus lautan manusia yang cukup ramai siang itu. Semua perhatian akhirnya tertuju padanya.

Dari depan kamar nomor 9, Gina meneriaki nama anaknya. Air matanya kembali mengucur dari ujung matanya, tak percaya anaknya akan berbuat demikian. Sedangkan dokter yang masih setia berdiri di sebelahnya langsung mengusap punggung sGina. “Hannah ngga akan kemana-mana, Bu. Dia ngga akan jauh-jauh dari lingkungan rumah sakit ini, Ibu tenang aja,” ucapnya meyakinkan. Namun, perasaan Gina tak bisa tenang. Akhirnya dia bersama dengan dokter itu memutuskan untuk mengejar Hannah yang jejaknya sudah tak terlihat.

Di lain tempat, seorang laki-laki berpakaian seragam sekolah putih hitam lengkap dengan tas yang masih menggantung di bahunya itu tiba-tiba merasakan deru angin yang sangat keras dari arah samping. Ketika dia menoleh, ternyata seorang gadis yang kira-kira seusia dengannya tengah berlari dengan tergesa-gesa seperti sedang dikejar sesuatu.

Sedangkan dari arah 2 meter di depan laki-laki itu, terdengar percakapan yang mengalihkan perhatiannya. “Leo, besok Suster cari lagi ya mainannya. Sekarang Leo harus balik ke kamar untuk istirahat. Suster janji kalau bolanya ketemu langsung Suster kasih ke Leo, oke?” Mendengarnya membuat laki-laki itu langsung menghampiri suster dan satu pasien yang namanya Leo itu.

“Ada apa, Sus?” katanya. Suster itu menoleh. “Bola aku hilang di sana, tolong ambilin, Kak,” Bukan suster itu yang menjawab, melainkan anak laki-laki berusia 7 tahun itu yang menjawab.

Manik matanya mengikuti arah jari kecil itu menunjuk. “Oh di sana. Aku ambilin tapi kamu harus ikut suster untuk istirahat, ya?” ucapnya. Anak laki-laki itu sumringah, kemudian mengangguk. “Oke! Terima kasih, Kak!” serunya sambil tersenyum.

“Memangnya kamu ngga ada kegiatan di sekolah lagi?” tanya suster itu.

Laki-laki itu tersenyum. “Ngga kok, Sus. Oh iya, aku titip bekal ini untuk Mama. Aku ke sana dulu ya, Sus,” ucapnya. Usai menyerahkan lunch bag itu, dia pun berlalu.

Kaki jenjangnya melangkah menyusuri koridor dengan cepat sebelum bola yang dia cari menghilang lebih jauh. Ternyata bola yang mirip semangka itu menggelinding sampai ke rooftop gedung rumah sakit lantai 3 ini. Laki-laki itu mengerutkan keningnya heran lantaran gerbang rooftop yang biasanya tertutup itu sekarang terbuka. Dia melangkah masuk.

Di pinggir rooftop yang sepi itu, tampak seorang gadis tengah berjongkok di sana dalam diam. Tak bergerak seinci pun meski angin menghantamnya cukup keras. Bergeming meski dinginnya angin menusuk sampai ke tulang. Gadis tersebut tampak putus asa. Awalnya laki-laki itu canggung, tak tahu harus berbuat apa selain mengambil bola titipan anak laki-laki tadi. Namun, suara tangisan gadis itu membuatnya berubah pikiran. Dia memutuskan untuk mendekat.